Perjalanan menapaki gunung tertinggi ke dua di Bali ini (2276 mdpl) merupakan pejalanan membayar hutang.... setelah 8 thn yang lalu aku melewati sebuah pedesaan yang bernama Batuengsel, sebuah desa asri yang berudara sejuk dan perbukitan ditumbuhi pohon-pohon kopi.
Saat itu, 8 tahun yang lalu begitu gagah dan mistisnya kulihat gunung Batukaru, dan begitu jujur dan ramahnya para penduduk disana menjamuku.
Diatas pucak gunung Batukaru yang kutau terdapat sebuah pura tempat pemujaan Dewa Mahadewa, beliau adalah penguasa arah barat (Pascima), bersenjata Nagapasa, wahananya (kendaraan) Naga, shaktinya Dewi Sanci, aksara sucinya "Ta", dan merupakan pura yang paling sakral dan disucikan di Bali .
Kekagumanku membuatku berjanji suatu saat bila kampung ini melakukan ritual dan rentetannya mengharuskan untuk naik ke atas gunung aku akan datang dan ikut dengan mereka menjadi bakta .
Menurut mereka belum tentu 5 tahun sekali mereka boleh melakukan ritual sampai ke atas gunung, dan 8 tahun yang lalu seingatku mereka mengatakan baru 2 thn yang lalu mereka naik ke atas dan ngak tau kapan boleh naik lagi.......
Sebuah kearifan yang membuatku terkagum-kagum... boleh... padahal kalau di pikir kalau mau, setiap saat mereka bisa mendaki gunung ini untuk melakukan ritual.
Perjalananku membayar janji dan keriduanku untuk bisa sembahyang di pura Batukaru ini di awali dengan ritual melukat (prosesi membersihkan diri) di pura beji (pura dengan mata air) yang ada di bawah kampung batu engsel.
Saat itu pkl 00:00 dinihari udara yang sangat dingin kurasa mengiringi prosesi pembersihan diri, mandi di mata air gunung dengan lembayung tebal membatasi jarak pandang. ditemani oleh seorang teman Bli nyoman Polos, aku menyelesaikan prosesi pembersihan diri tersebut yang di akhiri dengan persembahyangan permohonan semoga badan dan pikiran ini bersih dan di perbolehkan untuk menghadap beliau.
Pukul 02:30 pagi sampai aku di perbatasan antara desa dan hutan gunung di kaki sebelah barat gunung batukaru. Kupersiapkan sesajen dan dupa untuk mohon agar diperbolehkan memasuki kawasan suci ini, sebuah pura kecil namun sangat magis tepancar dari pura yang terletak di bibir hutan ini. Gelap gulita hanya sinar dupa/hio ku saja yang menerangi pagi itu dan harumnya menyelimuti kekusukanku , suara angin dan gesekan ranting menemani alunan doa yang ku ucapkan.
Perjalanan kulanjutkan dan Begitu gelapnya pagi itu aku hanya dapat melihat baju bli nyoman Polos yang berwana putih dari jarak 1-2 meter, langkah menanjak membuatku kelelahan, sesekali ku terhenti untuk mengambil nafas dan tanpa terasa aku sampai di Batu Prahu, terlihat bekas sesajen kering bertumpuk diatas bebaturan ini, kembali kunyalakan dupa dan sesaji kuhaturkan di tempat ini, tak henti-hentinya kuucapkan terimakasih sudah di perbolehkan masuk kekawasan suci sejauh ini. Sesaat aku beristirahat di batu prahu ini, kunikmati bekalku yaitu jeruk manis dan air mineral untuk menghapus dahagaku.
Kulanjutkan lagi perjalanan menuju puncak gunung batukaru ini. kira kira 3 jam berjalan sampailah aku di pura Pangulapan dan kini suasana sudah berubah drastis suara burung begitu ramainya berkicau dan puncak gunungpun mulai terlihat karena kini aku berada kurang lebih 600 meter dari puncak dimana saat mentari sebentarlagi akan terbit (galang kangin) dan kabutpun tidak setebal saat aku di bawah, kulihat awan seperti hamparan kapas putih berada di bawah aku berdiri. kagum.. itulah memenuhi perasaanku.. kembali ku panjatkan doa dan haturkan terimakasih telah di ijinkan melihat keindahan ini, seperti gambaran surga yang di film-film.
Kelelahan itulah yang kurasakan dalam pencapaian pura pangulapan ini, dengan semangat yang tersisa aku lanjutkan pencapaian puncak Gunung Batukaru, tak henti aku mohon diberikan kekuatan utuk pencapaian ini dan kira kira 20 menit kemudian sampailah aku di puncak.
Sesaat setelah mengatur nafas kupanjatkan doa di pura suci ini..
Aku telah tunaikan janjiku....
Terimaksih telah diberika kesempatan untuk memujamu di tempat yang suci ini...
Terimakasih telah diberikan kesempatan untuk membayar hutang janjiku....
Batukaru ..
Aku tetap menjadi Baktamu........
2 komentar:
Mas Dendan, waduh aseli Bali toh! eh mas, aku sukaaaaaa bgt dgn Bali. mpe saat ini aku pgn bgt tinggl di surga itu. sayangnya aku barusan nikah, jd sdh ga mgkn lg. btw, boleh nggak next time q blajar bhsa bali dikit2. q lg nulis novel, settingy di Bali gt deh..! makasih ya dah mampir ke site-ku.
Pura adalah tempat sembahyang universal, rumah Tuhan yang membumi dan mengangkasa. Siapa aja boleh datang mencari kedamaian.
SM
Poskan Komentar